Filosofi Jawa sebagai Teknik Pemahaman Diri dalam Dunia Konseling

 Filosofi Jawa sebagai Teknik Pemahaman Diri dalam Dunia Konseling 

Leluhur masyarakat Jawa memiliki beraneka filosofi yang jika dicermati memiliki makna yang begitu dalam. Akan tetapi filosofi yang diberikan oleh para leluhur itu disaat ini dinilai sebagai hal yang kuno dan ketinggalan jaman. Makna dari ungkapan-ungkapan Jawa ini seringkali tidak dipahami oleh sebagian-sebagian besar keturunan etnis Jawa di era modern ini. Maka tidak salah jika muncul sebutan “Wong Jowo sing ora Njawani”.


Filosofi Jawa dinilai sebagai hal yang kuno dan ketinggalan jaman. Padahal, filosofi leluhur tersebut berlaku terus sepanjang hidup. Warisan budaya pemikiran orang Jawa ini bahkan mampu menambah wawasan kebijaksanaan. Berikut beberapa macam falsafah dari arti dan makna yang sering digunakan sehari – hari :


Pertama . Ajining diri dumunung aneng lathi (Kwalitas diri seseorang tercermin dari tutur kata)


Tata basa/berkata-kata/berbahasa/berkomunikasi merupakan petunjuk atau indikator bagi diri sendiri apakah kita sudah cukup baik kwalitas kita atau hanya anggapan-anggapan kita sendiri atau istilah lain tajamnya pedang sakti, tidak setajam lidah, yang artinya kata-kata bisa melukai orang lain, kata-kata bisa menjadi racun dan bisa membunuh orang lain (mulutmu harimaumu).


Kata-kata disini yang mencerminkan diri adalah kata-kata yang mengandung motif, kata-kata yang isinya berkemauan atau karsa, diantara pilihan pengertian inilah bisa sangat menjadi indikator kwalitas diri yang baik atau justru sebaliknya.


Kedua Golek banyu bening (Belajar pada guru yang benar)


Sejarah perjalanan manusia tidak lepas daru guru dan belajar, istilahnya tiada kehidupan tanpa disentuh oleh guru dan tiada kehidupan tanpa belajar. Setiap langkah kehidupan kita adalah belajar untuk mengerti dan lebih mengerti, baik itu lewat bimbingan maupun pengalaman. Guru-Guru inilah yang membuat kita dibimbing dalam hal yang benar. Permasalahannya muncul ketika kita bertanya, apa itu yang bisa dibuat benar ? Seorang bijak menjelaskan bahwa “Ngupdi ilmu mangkono kudu ateken tekun atemah tekan kanthi syarat 3 perkoro yaiku :


Ilmu kang bener-bener kanggo pribadine dewe, bener tumraping sesami gesang lan bener tumraping pangeran (ilmu yang benar-benar bagi pribadi kita sendiri, benar bagi sesama hidup dan benar bagi Tuhan). Dan masih banyak lagi filosofi Jawa yang bisa dijadikan alat untuk memahami arti kehidupan dan diri sendiri.

Taukah kamu jika konseling dengan metode filosofi jawa belum pernah dilakukan, bahkan elum ada penelitian mengenai hal ini. Padahal jika kita telisik lebih jauh lagi ilmu" Pemahaman diri dari mbah moyang kita tidak kalah dari teori" Dasar yang ditemukan oleh bangsa eropa. Padahal belum tentu teori luar bisa cocok dengan sistem hidup dengan bangsa kita. 

Yang menjadi menarik, apakah bisa filosofi jawa kuno bisa masuk kedalam permasalahan-permasalahan masa kini? Tentu kita akan berfikir seperti itu sebagai generasi mileneal. Jawabnya pasti bisa karena filosofi jawa mengenalkan arti diri sesungguhnya. Apapun masalahnya tergantung pada diri individu sendiri. Bagaimana tentang mencari solusi dalam setiap permasalahan dan selalu sabar jika mendapat sebuah kesusahan.