MEMBINA PEERGAULAN YANG HARMONIS

MEMBINA PEERGAULAN YANG HARMONIS

Hakikat pergaulan

Kalau kita bicara ttg pergaulan, maka yang umumnya kita pikirkan adalah hubungan persahabatan yang ada antara seseorang dengan orang lain. Kita jarang mengasosiakan pergaulan dengan hubungan kerja, dengan kata lain kita umumnya memberikan pengertian yang berbeda dengan “lingkungan kerja “ dan “ lingkungan pergaulan”.

Bagi mereka yang masih sekolah kitapun akan membedakan antara lingkungan sekolah dengan lingkungan pergaulan.  Semua ini menunjukkan bahwa seseorang lebih mengartikan “pergaulan” sebagai suatu yang lebih dekat dengan “ bermain “ dari pada dengan sesuatu yang serius seperti “bekerja” dan “bersekolah”.

Sesungguhnya pergaulan tidak dapat begitu saja dari pekerjaan maupun sekolah, tidak jarang seseorang memilih teman bergaul dan juga sekaligus merupakan teman sekolah atau teman kerja. Tetapi walaupun demikian, umumnya dapat dipahami bahwa bergaul tidaklah sama dengan bekerja atau bersekolah. Nyatalah bahwa orang membutuhkan pergaulan sebagai kegiatan ekstra diluar kegiatan-kegiatan yang bersifat serius.

Pelajaran tentang cara hidup bersama orang lain ini terus berlangsung ketika anak mengganti lingkungan pergaulan dari lingkungan rumah ke lingkungan diluar rumah, ketika ia mulai bersekolah, ia bergaul dengan lebih banyak orang pada jam-jam istirahat disekolah, ia bergaul dengan teman-teman sekolahnya, dan ada kemungkinan bahwa ia akan memilih satu atau beberapa teman sekolahnya sebagai “teman khusus”, teman dekat atau sahabat karib, pada mulanya teman khusus ini adalah teman yang sejenis. Dengan teman khusus ini yang tidak selalu harus merupakan teman sekolah ia belajar lebih banyak hal lagi, sejalan dengan perkembangan usianya, ia mungkin memiliki beberapa hal yang hanya bisa ia bicarakan dengan teman khusus ini. Ia mungkin punya rahasia-rahasia yang hanya bisa ia ungkapkan kepada teman khususnya, karena merasa kurang layak untuk ia ceritakan kepada orang tua atau saudara-saudaranya.

Manfaat Pergaulan

Guru dalam suatu pergaulan adalah semua pengalaman yang terjadi didalam pergaulan itu, dan pengalaman yang akan terjadi sangat tergantung pada semua pihak yang terlibat dalam pergaulan itu. Bila seoran anak kecil tidak pernah nakal ia tidak akan pernah belajar mengenai akibat dari kenakalannya. Kalau ia tidak pernah merengek iapun tidak akan merasakan dari rengekannya.untuk mempelajari sesuatu dari pengalaman, seseorang harus aktif mencoba melakukan sesuatu dan kemudian mempelajari akibat-akibat yang ditimbulkan oleh perbuatannya.

Karena guru adalah pengalaman dan pengalaman akan tergantung pada inisirtif pelajaran, maka pelajaran hanya bertanggung jawab pada hasil belajar. Ini berarti bahwa untuk bisa memetik sebanyak mungkin pelajaran, seseorang harus berani berinisiatif, atau dengan kata lain berani mengambil resiko. Dalam pacaran seseorang harus berani mengambil resiko untuk mengatakan “aku cinta kamu”. Tanpa pernah berani mengatakan hal ini, ia tidak pernah tahu akibat yang akan ditimbulkan oleh kata-kata bertuah ini.

Singkatnya untuk memetik pelajaran seseorang harus berani mengambil resiko. Adakalanya akibat yang ditimbulkan menyakitkan hati, tapi bagaimanapun juga resiko itu harus dijalani. Bayangkanlah saat-saat pertama seorang anak akan melangkahkan kaki. Ia takut karena ia belum pernah, kemudian ketika ia mencoba, ia jatuh, sakit rasa sakit ini membuat ia ragu untuk mencoba kedua kalinya, tapi ia tahu bahwa kalau ia tidak mencoba, ia tidak pernah akan berhasil.

Pergaulan yang Harmonis

Kesediaan bermawas diri, adalah salah satu syarat utama untuk membina hubungan yang harmonis kita harus berani untuk melihat kekurangan yang ada pada diri kita, kita bahkan harus berusaha menemukan kekurangan tu, walaupun orang lain mungkin, takut mengatakannya pada kita. Orang lain mungkin takut bahwa kita akan tersinggung, sehingga mereka lalu tidak mau berterus terang mengatakan hal-hal yang mereka rasakan sebagai kekurangan kita.karena itu kita Hrus menunjukkan kepada orang lain, bahwa kita bersedia menerima kritik mereka. Hal ini tidak cukup dilakukan dengan sekedar mengatakan. “saya bersedia dikritik”, melainkan harus ditunjukkan melalui perbuatan-perbuatan seperti. Tidak mudah tersinggung, tidak terlalu cepat membela diri sebelum benar-benar memahami maksud kritik orang lain, mau mengakui keslahan, dan sebagainya.

Adakalanya kita sangat sukar menerima “kekurangan”seseorang tetapi kita mencoba memaksa diri untuk menerima kekurangan itu. Hal ini sesungguhnya merupakan benih yang satu waktu akan meretakkan keharmonisan pergaulan. Sebaliknya bila kekurangan itu adalah sesuatu yang tidak mau diubah oleh orang yang bersangkutan kitapun tak boleh memaksa.